Sejarah Perkembangan Fiqh Pada Masa Sahabat

Sejarah Perkembangan Fiqh Pada Masa Sahabat

Periode sahabat ini dimulai dari wafatnya Rasulullah SAW sampai akhir abad pertama hijrah. Pada masa sahabat dunia Islam sudah meluas, yang mengakibatkan adanya masalah-masalah baru yang timbul, oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila pada periode sahabat ini di bidang hukum ditandai dengan penafsiran para sahabat dan ijtihadnya dalam kasus yang tidak ada nash-nya. Disamping itu juga terjadi hal-hal yang tidak menguntungkan yaitu pecahnya masyarakat Islam menjadi beberapa kelompok yang bertentangan secara tajam. Yang menurut Ammer Ali, pada hakikatnya : ”Permusuhan suku dan permusuhan padang pasir yang dikobarkan oleh perselisihan dinasti”.[1]

Perselisihan suku ini memang ada pada zaman jahiliah, kemudian pada zaman Rasulullah dinetralisasi dengan konsep dan pelaksanaan ukhuwah Islamiah.

  • Sumber Hukum

Pada periode sahabat ini ada usaha yang positif yaitu terkumpulnya ayat-ayat Al-Qur’an dalam satu mushaf. Ide untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam satu mushaf datang dari Umar bin Khattab, atas dasar karena banyak para sahabat yang hafal Al-Qur’an gugur dalam peperangan. Ide ini disampaikan oleh Umar kepada khalifah Abu Bakar, pada mulanya Abu Bakar menolak saran tersebut, karena hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi pada akhirnya Abu Bakar menerima ide yang baik dari Umar ini. Maka beliau menugaskan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang terpencar-pencar tertulis dalam pelepah-pelepah kurma, kulit-kulit binatang, tulang-tulang dan yang dihafal oleh para sahabat. Mushaf ini disimpan pada Abu Bakar, seterusnya masa Umar dan kemudian setelah Umar meninggal disimpan pada Hafshah binti Umar. Pada zaman Usman bin Affan, Usman meminjam mushaf yang ada pada Hafshah kemudian menugaskan lagi kepada Zaid bin Tsabit untuk memperbanyak dan membagikannya ke daerah-daerah slam yaitu ke Madinah, Mekkah, Kufah, Basrah dan Damaskus. Mushaf itulah yang sampai kepada kita sekarang.

Ayat-ayat Al-Qur’an waktu Nabi meninggal telah tertulis, hanya masih berpencar-pencar belum disatukan. Nabi selalu minta untuk menuliskan Al-Qur’an dan melarang menuliskan Hadist. Dengan demikian tidak akan bercampur antara ayat Al-Qur’an dan Hadist. Disamping itu Al-Qur’an banyak dihafal oleh para sahabat. Bahkan banyak sahabat yang hafal keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an.

Adapun Hadist pada masa ini belum terkumpul dalam satu kitab, akibat tidak tertulisnya dan tidak terkumpulnya Hadist dalam satu mushaf pada permulaan Islam, maka ulama-ulama dapa periode selanjutnya harus meneliti keadaan perawi Hadist dari berbagai segi, sehingga menimbulkan pembagian Hadist serta muncul Ilmu Musthalah Hadist. Akibat lain adalah timbulnya perbedaan pendapat karena berbeda dalam menanggapi satu Hadist tertentu.

  • Ijtihad Sahabat

Pada masa sahabat, Islam telah menyebar luas misalnya ke negeri Persia, Irak, Syam dan Mesir. Negara-negara tersebut telah memiliki kebudayaan yang tinggi, mempunyai adat-adat kebiasaan tertentu, peraturan-peraturan dan ilmu pengetahuan. Bertemunya Islam dengan kebudayaan di luar Jazirah Arab ini mendorong pertumbuhan Fiqh Islam pada periode-periode selanjutnya. Bahkan juga mendorong ijtihad para sahabat. Seperti misalnya kasus Usyuur (bea cukai barang-barang impor), kasus mualaf dan lain-lain pada zaman Umar bin Khatab.

Adapun cara berijtihad para sahabat adalah pertama-tama dicari nash-nya dalam Al-Qur’an, apabila tidak ada, dicari dalam Hadist, apabila tidak ditemukan baru berijtihad dengan bermusyawarah di antara para sahabat. Inilah bentuk Ijtihad jama’i. Apabila mereka bersepakat terjadilah ijma sahabat. Keputusan musyawarah ini kemudian menjadi pegangan seluruh umat secara formal. Khalifah Umar bin Khatab misalnya mempunyai dua cara musyawarah, yaitu : ”Musyawarah yang bersifat khusus dan musyawarah yang bersifat umum”. Musyawarah yang bersifat khusus beranggotakan para sahabat Muhajirin dan Anshor, yang bertugas memusyawarahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kebijaksanaan pemerintah. Adapun musyawarah yang bersifat umu dihadiri oleh seluruh penduduk Madinah yang dikumpulkan di Mesjid, yaitu apabila ada masalah yang sangat penting.

Walaupun demikian tidaklah menutupi kemungkinan adanya ijtihad para sahabat dalam masalah-masalah yang sifatnya pribadi, tidak berkaitan secara langsung dengan kemaslahatan umum. Mereka menanyakan masalahnya kepada salah seorang sahabat Nabi dan diberikan jawabannya. Dalam masalah-masalah ijtihadnya termasuk dalam hal-hal yang belum ada nash-nya para sahabat berijtihad.[2]

Jadi, pada masa sahabat ini sudah ada tiga sumber hukum yaitu Al-Qur’an, Alsunnah dan Ijtihad sahabat. Ijtihad terjadi dengan ijtihad jama’i dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan kemaslahatan umum dan dengan ijtihad fardhi dalam hal-hal yang bersifat pribadi.

Untuk bentuk ijtihad fardhi, ada kemungkinan terjadi perbedaan pendapat dikalangan para sahabat, disebabkan :

  • Tidak semua ayat Al-Qur’an dan Sunnah itu qath’i dalalahnya atau penunjukkannya.
  • Hadist belum terkumpul dalam satu kitab dan tidak semua sahabat hafal hadist.
  • Lingkungan di mana para sahabat berdomisili tidaklah sama, keperluan-keperluannya berbeda dan penerapan juga berlainan.[3]

Diantara tokoh-tokoh fiqh pada periode sahabat ini adalah :

  • Di Madinah : Abu Bakar Shiddieq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asyari, Ubaiy bin Ka’ab, Abdullah bin Umar dan Aisyah RA.
  • Disusul oleh murid-muridnya (Tabi’in) yang terkenal dengan nama tujuh fuqaha di Madinah yaitu :
  • Abu Bakar bin Abdurahman bin Haris bin Hisyam, Al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Shiddieq, Urwah bin Zubaer bin Awam al-Asadi, Said bin Musayab, Sulaeman bin Yasir, Kharizah bin Zaid bin Tsabit, Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud.
  • Di Mekkah : Abdullah bin Abbas, disusul oleh murid-muridnya (Tabi’in) : Ikrimah Abu Muhammad Atho bin Abi rabbah, Mujahid bin Zubaer
  • Di Kufah : Abdullah bin Mas’ud, disusul oleh murid-muridnya (Tabi’in) : Alqomah bin Qius bin Abdillah, Masruk bin Al-Ajda Al-hamdani, Al-Qodli Sureh Said bin Zubair, Asya’bi.
  • Di Mesir : Abdullah bin Amr bin Ash, disusul muridnya (Tabi’in) : Yazid bin Abu Habib, Alaist bin Sa’ad.
  • Di Yaman : Muadz bin Jabal.

Yang ditinggalkan oleh periode sahabat ini, adalah :

  1. Penafsiran para sahabat tentang ayat-ayat hukum.
  2. Sejumlah fatwa sahabat dalam kasus-kasus yang tidak ada nash hukumnya.
  3. Terpecahnya umay menjadi 3 golongan yaitu Khawarij, Syiah, dan Jumhur Muslimin atau Ahlu Sunnah Wal Jamaah.[4]

[1] Ammer Ali, Sayed, The Spirit of Islam, Alih bahasa Djamadi. PT. Pembangunan Jakarta, 1996, Jilid II, Hal.158.

[2] Djazuli, Prof. H. A, Ilmu Fiqh, Pengalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005.

[3] Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, al dar Al Kawaetiyah, Mesir, 1968
_________________, Khulasoh Tarikh al Tasrik al Islami, Dar al Alawy Indonesia, Tanpa tahun.

[4] http://islamwiki.blogspot.com,tanggal 05-10-2011,jam:21.00

About these ads

Tentang ILMUKAMU

Anak pengangguran yang akan menjadi sukses!!

Posted on Oktober 11, 2011, in Fiqh and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Komentarnya Brow...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: