Sejarah Perkembangan Fiqh Pada Masa Imam Mujtahid

Sejarah Perkembangan Fiqh Pada Masa Imam Mujtahid

Periode ini berlangsung selama ± 250 tahun, dimulai dari awal abad kedua hijrah sampai pertengahan abad keempat hijrah.

Ada dua hal penting tentang Al-Qur’an pada masa ini, yaitu :

  1. Adanya kegiatan menghafal Al-Qur’an
  2. Memperbaiki tulisan Al-Qur’an dan memberi syakal terhadap Qur’an. Ini penting sebab orang muslim non arab bisa salah dalam membaca Al-Qur’an. Maka Gubernur Irak waktu itu Ziyad bin Abihi meminta kepada Abu al-Aswad Aduali untuk memberi syakal. Maka Abu al-Aswad Aduali memberi syakal di setiap akhir kata, yaitu diberi satu titik huruf diatas sebagai fathah, satu titik di bawah sebagai kasrah dan satu titik di samping sebagai dhammah. Kemudian Al-Kholil bin Ahmad memperjelas bentuk tanda-tanda ini dengan alif diatas huruf sebagai tanda fathah, ya dibawah huruf sebagai kasrah dan wawu diatas huruf sebagai dhammah. Disamping itu yang diberi tanda bukan hanya huruf akhir kata tetapi seluruh huruf. Gubernur Irak Al-Hajaj bin Yusuf atas perintah Khalifah Abdul Malik bin Marwan meminta kepada Nashr-pun memberi tanda satu titik atau dua titik pada huruf-huruf tertentu, seperti qof dengan dua titik, fa dengan satu titik dan seterusnya.

Untuk Hadist pun sebagai sumber hukum yang kedua pada masa ini mulai dibukukan, antara lain yang sampai pada kita sekarang Kitab al-Muwatho yang disusun oleh Imam Malik pada tahun 140H. Kemudian pada abad kedua hijriah dibukukan pula kitab-kitab musnad, antara lain musnad Ahmad ibnu Hanbal. Pada abad ketiga hijriah dibukukanlah Kutubu Sittah, yaitu Shahih Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Anasa’i, Aturmudzi dan Ibn Majah.

Pada masa ini seluruh cara berijtihad yang kita kenal sudah digunakan meskipun para ulama setiap daerah memiliki warna masing-masing dalam berijtihad. Misalnya : Abu Hanifah dan murid-muridnya di Irak selain Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma, lebih menekankan penggunaan qiyas dan istihsan. Imam Malik di Hijaz selain Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma, lebih menekankan penggunaan al-maslahah al-mursalah.[1]

Adapun sebab-sebab berkembangnya ilmu fiqh dan bergairahnya ijtihad pada periode ini antara lain, adalah :

a. Wilayah Islam sudah sangat meluas ke Timur sampai ke Tiongkok dan ke Barat sampai ke Andalusia (Spanyol sekarang) dengan jumlah rakyat yang banyak sekali, kondisi ini mendorong para ulama untuk berijtihad agar bisa menerapkan syari’ah untuk semua wilayah yang berbeda-beda lingkungannya dan bermacam-macam masalah yang dihadapi.

b. Para ulama telah memiliki sejumlah fatwa dan cara berijtihad yang didapatkan dari periode sebelumnya, serta Al-Qur’an telah tersebar di kalangan muslimin juga Al-Sunnah sudah dibukukan pada permulaan abad ketiga hijriah.

c. Seluruh kaum muslimin pada masa itu mempunyai keinginan keras agar segala sikap dan tingkah lakunya sesuai denga Syari’ah Islam baik dalam ibadah mahdhah maupun dalam ibadah ghair mahdhoh (muamalah dalam arti luas). Mereka meminta fatwa kepada para ulama, hakim dan pemimpin pemerintahan.

d. Pada periode ini dilahirkan ulama-ulama potensial untuk menjadi mujtahid. Seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syafi’i dan Imam Ibnu Hanbal beserta murid mereka masing-masing.

Hal-hal penting yang diwariskan periode ini kepada periode beriktunya, antara lain :

a. Al-Sunnah yang telah dibukukan, sebagian dibukukan berdasarkan urutan sanad hadist dan sebagian lain dibukukan berdasarkan bab-bab fiqh. Disamping itu Al-Qur’an telah lengkap dengan syakal.

b. Fiqh telah dibukukan lengkap dengan dalil dan alasannya. Diantaranya Kitab Dhahir al-Riwayah al-Sittah dikalangan mazhab Hanafi. Kitab Al-Mudawanah dalam mazhab Maliki, Kitab Al-’Umm di kalangan mazhab al-Syafi’i, dan lain sebagainya.

c. Dibukukannya Ilmu Ushul Fiqh. Para ulama mujtahid mempunyai warna masing-masing dalam berijtihadnya atas dasar prinsip-prinsip dan cara-cara yang ditempuhnya. Misalnya, Imam Malik dalam kitabnya Al-Muwatha’ menunjukkan adanya prinsip-prinsip dan dasar-dasar yang digunakan dalam berijtihad. Tetapi orang yang pertama kali mengumpulkan prinsip-prinsip ini dengan sistematis dan memberikan alasan-alasan tertentu adalah Muhammad bin Idris al-Syafi’i dalam kitabnya Al-Risalah. Oleh karena itu beliau sebagai pencipta ilmu Ushul Hadist.[2]


[1] Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW, Pengantar Ushul Fuqh 1 LESFI, Yogyakarta,1994.

[2] http://islamwiki.blogspot.com,tanggal 05-10-2011,jam:21.00

About these ads

About ILMUKAMU

Anak pengangguran yang akan menjadi sukses!!

Posted on Oktober 11, 2011, in Fiqh and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Komentarnya Brow...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: